"do you know "latent social problems" ?????? kunaon aya nu kitu atuhhhhhhh ...... jelaskan.....jelaskan....... solusina kumaha???? kumaha ??????????? cik sok atuh... jawab ! he...he...."
latent social problem menyangkut hal-hal yang bertentangan dan berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat akan tetapi tidak diakui demikian halnya. Jadi latent social problem merupakan masalah sosial yang sebenarnya ada dalam kehidupan masyarakat tapi masyarakat tidak menyadari atau menganggap biasa akan masalah sosial itu Contoh latent social problem yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari:
1. Seseorang yang menyebut orang lain dengan kata "anjing". Mungkin kita sudah tidak aneh lagi ketika seorang teman menyebut temanya sendiri dengan kata anjing. Tapi karena sudah biasa, maka si temannya itu tidak merasa sakit hati. Hal itu merupakan latent social problem
2. Wanita dan laki-laki yang bukan muhrim duduk berdua-duaan.Menurut agama, jika seorang wanita dan laki-laki duduk berdua maka orang ketiganya adalah setan. Tapi karena masyarakat kita sudah menganggap hal itu biasa, maka ketika melihat wanita dan laki-laki duduk berduaan merupakan hal yang biasa. Hal itu merupakan latent social problem
3. Budaya kesiangan. Mahasiswa sudah tidak merasa takut atau malu terhadap dosennya karena kesiangan ketika masuk kelas. Dia mengganggap bahwa dosennya juga suka kesiangan jadi gak usah malu jika kesiangan dan hal demikian itu merupakan latent social problem.
Kenapa ada latent social problem? karena adanya perbedaan mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada, dan kita membiarkan hal itu, akibatnya kita menganggap biasa, jika dibiarkan akan menjadi sebuah kebiasaan dan jika sudah menjadi kebiasaan akan menjadi budaya dan akhirnya menjadi personality atau kepribadian dan akan membentuk latent social problem.
Solusinya yaitu kembali pada nilai-nilai agama dan budaya. Berperilakulah sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang mampu menilai ulang gagasan asing dan nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Mungkin di budaya barat duduk berdua-duaan adalah hal yang biasa, tapi karena kita adalah bangsa Indonesia kita jangan menganggap hal itu biasa karena akan menjadi suatu latent social problem
Cinta tidak sama dengan nafsu,,,,why ???!!
Cinta tentu berbeda dengan nafsu. Cinta itu bersifat manusiawi, tumbuh dan berkembang serta cinta itu bersifat rohaniah sehingga menciptakan dorongan halus. Dorongan halus merupakan salah satu bagian dari homohumanus. Homohumanus itu akan timbul jika cinta diselimuti oleh agama, moral, budaya dan nilai.
Sedangkan nafsu itu bersifat jasmaniah, cenderung memuaskan dorongan seksual dan dorongannnya bersifat paksaan. Jika seorang cenderung mengungkapkan perasaannya dengan berciuman, bermesraan berhubungan seksual maka hal itu merupakan nafsu bukan cinta. Jika si pasangannya tidak mau melakukan hal yang seperti yang ia inginkan, maka akan cenderung terjadi paksaan supaya pasangannya mau melakukan apa yang ia ingin lakukan.
Stratifikasi sosial itu apa,,???!!
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Menurut Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Karena dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai yaitu harta, ilmu, jabatan dan kehormatan. Di setiap tempat sesuatu yang dihargai berbeda. Contohnya, seseorang yang gelarnya Dr gajinya kan lebih besar dibanding dengan seseorang yang bergelar M.Pd. Di desa, seseorang akan lebih dihargai jika memilki kekayaan yang banyak dan dapat terlihat dari perhiasan yang dipakainya. Pada salah satu suku di Kalimantan, seseorang akan lebih dihargai jika anting di telinganya semakin banyak. Seseorang akan semakin dihargai tergantung dari ikhtiar, usaha dan nasibnya. Makna dari stratifikasi sosial adalah kita akan semakin bijaksana dalam menilai seseorang
Bicara soal Prasangka,,,,mengapa ada prasangka???!!
Prasangka adalah kecenderungan untuk berespons baik secara positif ataupun negatif terhadap orang, objek atau situasi. Prasangka itu bisa berupa prasangka positif dan prasangka negatif.
Prasangka positif timbul karena objek sikap berperilaku positif atau subjek sikap memilki unsur-unsur sikap positif. Contohnya, sesorang yang berpakaian dan berdandan yang baik, ucapannya baik pula serta bersikap sopan santun, maka orang akang cenderung berperasangka positif.
Prasangka negatif timbul jika objek sikap berperilaku negatif atau subjek sikap belum memilki unsur-unsur sikap positif. Contohnya, seseorang yang berdandan jelek, berkata kotor dan bertingkah laku kasar maka orang tentu akan berperasangka negatif.
