Pages

Rabu, 02 Maret 2011

Pendahuluan

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
(ISBD)
PENDAHULUAN
Dosen Pengampu: Ana Maulana, M.Pd.

Konsep 5 M

Dalam mengkaji sesuatu sebaiknya menggunakan  konsep 5 M yakni:
1.    Mengetahui.
2.    Mengerti. Setelah mengetahui, kita mengerti apa yang kita pelajari
3.    Memahami. Hingga membentuk suatu konsep dalam ingatan kita mengenai apa yang kita pelajari
4.    Menghayati.Terus dikaji sedikit demi sedikit hingga yakin dengan apa yang kita pelajari itu benar
5.    Mengamalkan. Yang paling utama adalah mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari atau mengamlkannya.

Kemampuan yang Diharapkan dari Lulusan Perguruan Tinggi

Sarjana diharapkan memilki 3 jenis kemampuan:
1.    Kemampuan personal/ personality, kemampuan kepribadian.
Dengan kemampuan ini diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
2.    Kemampuan akademik
Kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternative pemecahannya
3.    Kemampuan professional
Kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.

KEPRIBADIAN INDONESIA

 
  • Sadar akan hak, kewajiban dan tanggung jawab etis moril dan politis terhadap kepentingan bangsa dan negara yang ditampilkan dalam wujud keteladanan yang baik
  • Dengan sadar mentaati hukum dan UUD ’45, memiliki disiplin pribadi serta disiplin sosial dan kesadaran nasional yang teguh dan tidak sempit (chauvinistis)
  • Berpandangan jauh ke depan, memiliki tekad perjuangan untuk mencapai taraf kehidupan bangsa yang lebih tinggi didasarkan pada kemampuan objektif dan kekuatan kolektif bangsa Indonesia
  • Aktif dan kreatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam kegiatan pembangunan nasional dan pembangunan politik
  • Mampu menilai ulang gagasan asing dan nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dengan seperangkat kemampuan yang dimilikinya lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi manusia unggul (cerdas) secara intelektual yakni sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya. Anggun secara moral. Kompeten memnguasai iptek serta memilki komitmen tinggi untuk berbagai peran social yakni mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat Indonesia dan umat manusia pada umumnya.
Posisi Mahasiswa dalam kehidupan masyarkat yakni pada stratifikasi soial berada pada tingkat paling atas yaitu pada upper class, karena mahasiswa dianggap memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dengan belajar di perguruan tinggi.


RURAL COMMUNITY DAN URBAN COMMUNITY

Dalam kehidupan masyarakat ada istilah mengenai rural community dan urban community. Masyarakat pedesaan atau rural community memilki karakteristik sebagai berikut:
1.    Sederhana
2.    Mudah curiga
3.    Menjunjung tinggi kesopanan
4.    Kekeluargaan
5.    Lugas
6.    Tertutup dalam hal keuangan
7.    Perasaan “minder” terhadap orang kota
8.    Menghargai rang lain
9.    Jika berjanji akan slalu diingat
10.    Suka gotong royong
11.    Demokratis
12.    Religious
Sedangkan urban community/ masyarakat perkotaan adalah sebuah masyarakat yang telah membuat penasaran masyarakat pedesaan yang berbondong-bondong meninggalkan sanak famili dan keluarga di kampung halaman menuju ke urban community mengharap kehidupan yang lebih layak dan lebih baik.
Kalau kita amati lebih lanjut, Urban Community / Masyarakat Perkotaan ini memiliki karakteristik / ciri yang berbeda dengan masyarakat perbedaan. beberapa karakteristik masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut:
A.    Jalan pikiran rasional
Sering kali jika dalam masyarakat pedesaan masih percaya dengan adanya hal mistik, seperti batu yang dapat menyembuhkan penyakit, takhayul dan hal-hal mistik lainnya, hal ini sangatlah berbeda dengan pola pikir masyarakat perkotaan.
Masyarakat perkotaan hampir sebagian besar berpikir secara rasional atau yang masuk di akal. mereka lebih suka ke dokter untuk menyembuhkan penyakit yang ada pada diri mereka.
Realitas ini mungkin menunjuk pada tingkat pendidikan lebih tinggi yang dimiliki oleh masyarakat perkotaan tersebut.
B.    Mengurus Dirinya Sendiri
Dalam hal bermasyarakat, mungkin rasa keakraban dan kekerabatan di lingkungan masyarakat perkotaan terasa kurang jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.
Masyarakat perkotaan yang umumnya pekerja, sangat sulit walau hanya untuk sekedar kumpul-kumpul dengan masyarakat lain, hal ini disebabkan oleh kesibukan pekerjaan masing masing individu.
C.    Perubahan sosial tampak nyata
Beberapa pola perubahan sosial ini diantaranya muncul sebagai efek perkembangan teknologi yang semakin pesat.  banyak sekali contoh yang dapat kita lihat, diantaranya: penggunaan email untuk mengirimkan dokumen lamaran pekerjaan. penggunaan situs jejaring sebagai ajang dalam mencari pertemanan, transaksi jual beli online yang tanpa harus tatap muka dan lain sebagainya

PERBEDAAN MANUSIA BARAT DAN TIMUR

Dari segi pengetahuan    manusia barat mengutamakkan akal sebagai alat penalaran dalam memperoleh pengetahuan. Abstraksi sangat penting dalam memahami hidup. Pengetahuan berguna untuk menguasai dunia. sedangkan manusia timur mengutamakan hati yang merupakan alat pemersatu akal dan intuisi atau intelegensi dan perasaan. Menekankan pada symbol yang sifatnya konkrit. Pengetahuan berguna untuk menjadi bijaksan dalam menghadapi hidup yan sulit
Sikap terhadap alam   manusia barat mempunyai motivasi untuk menguasai alam, karena manusia barat berjarak dengan alam sehingga muncul eksploitasi dan ekspansi  sedangkan manusia timur  menghormati alam karena menganggap alam dan manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan (holistic) sehingga muncul harmonisasi
Cita-cita hidup, Manusia barat mempunyai sikap aktif, mereka actor dari kehidupan dan terus berpetualang dalam hidupnya . Sedangkan nilai tertinggi dalam hidup dating dari dalam, menerima keadaan, mengumpulkan pengalaman, mengintegrasikan diri dan waktu demi kesempurnaan
Status personal, manusia barat menghargai hak individu sehingga membentuk pribadi yang percaya diri, terus terang, realistis dan “ berani menjadi”  . sedangkan manusia timur keberadaan manusia baru berarti apabila ia tidak memisahkan diri dari masyarakat dan berfikir social-kolektif

PERSAMAAN MANUSIA BARAT DAN TIMUR 
Mengakui adanya sesuatu yang absolut yang merupakan sumber dari segala sesuatu (penyebab pertama). Sama-sama menghadapi pertanyaan dasar tentang manusia dan mempunyai wawasan yang sama tentang dimana masnusia dapat menemukan pemahamannya
POTRET BURAM GENERASI SAAT INI

Remaja pada saat ini jauh berbeda dengan remaja pada masa Rasullulah. Remaja pada masa Rasulllah menjadi pengikut dan penggerak dakwah islam, diantaranya:
  • Ali bin Abi Thalib (8 tahun)
  • Zubair bin Al-awwam (8 tahun)
  • Thalhah bin ‘Ubaidillah (11 tahun)
  • Arqam bin Abi Al-Arqam (12 tahun)
  • Abdullah bin Mas’ud (14 tahun)
  • Said bin Abi Waqash (17 tahun)
POTRET REMAJA PADA SAAT INI

o    Tawuran hamper terjadi setiap hari
o    Minat yang tinggi dikalangan generasi muda terhadap kehidupan non science seperti asyik mencari kekuatan ghaib, belajar ilmu sihir/hitam, mencari jawaban dari jawaban paranormal, percaya dengan ramalan bintang, atau pergi ke tempat angker menyelami black magic dan mempercayai mistik
o    Budaya barat yang berbetnuk sensate culture yaitu budaya yang bertalian dengan sikap hedonistic dengan orientasi gaya hidup yang hura-hura , gaya hidup konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistic, kebebasan yang salah arah yang lepas kendali aturan agama dengan tampilan generasi yang permissive (serba bebas) dan anarkis(penuh kekerasan/brutal)
o    Anak yang tidak mampu sekolah menjadi pengemis, pengamen maupun pedagang asongan. Bahkan tidak hanya itu, banyak dari mereka yang menjadi pelaku tindak criminal, mencopet, terlibat naarkoba, mabuk-mabukkan, pembunuhan dan perbuatan asusila lainnya. Mereka melakukan itu dengan dalih kebutuhan ekonomi yang  terasa meningkat tajam
o    Meningkatnya bunuh diri dikalangan remaja dan anak-anak karena tidak mampu menahan tekanan hidup
Sehingga timbul dalam benak kita kenapa bisa terjadi? Apa akar masalahnya? Dan apa solusinya?
Potret buram generasi saat ini terjadi karena di era globalisasi ini unsur-unsur budaya asing seperti pola pergaulan hedonis (memuja kemewahan), pola hidup konsumtif sudah menjadi pola pergaulan dan gaya hidup para remaja kita. Bagi individu atau remaja yang tidak siap dan tidak dapat menyesuaikan pada pola pergaulan tersebut, mereka akan menarik diri dari pergaulan atau bahkan ada yang frustasi sehingga menimbulkan tindakan bunuh diri atau perilaku penyimpangan yang lain.
 Bila diibaratkan, kondisi umat saat ini adalah sakit, penyebabnya adalah meninggalkan agama alias secular. Obatnya adalah kembali pada fitrah manusia untuk beribadah kepada Allah. Dokter utnuk mengobati umat yang sakit adalah umat yang sehat, sadar dan mau. Rumah sakit untuk menyembuhkan umat yang sakit adalah dimana saja di atas bumi Allah ini.

KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA SAAT INI
Kondisi pendidikan saat ini sangat memprihatinkan, selain rendahnya kulaitas pendidikan, terjadi masalah dalam pendidikan di Indonesia. Yang akan diuraikan sebagai berikut:
1.    Arah pendidikan kurang jelas. Salah satu penyebab kurang jelasnya pendidikan di Indonesia adalah adanya sekulerisme dalam paradigm pendidikan. Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”
Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti “iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi masalah privat dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).
Sesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus.
Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia salih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.
2.    Pendidikan sebagai barang mahal.
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
3.    Pendidikan tidak merata
Sudah menjadi topic utama bahwa pendidikan di Indonesia tidak merata. Banyak penduduk di Indonesia terutama yang tinggal di daerah pedalamn hanya mampu bersekolah sampai tingkat dasar saja, atau paling tinggi hanya sampai tingkat SMP.
4.    Penyelewengan dana pendidikan cukup tinggi.
Penyelewengan dana sudah menjadi suatu hal yang dianggap tabu. Dalam dunia pendidikan, penyelewengan dana pun terjadi terutama melalui dana BOS yang seharusnya menjadi hak para peserta didik, tapi malah masuk ke tangan orang yang tidak seharusnya. Inilah salah satu produk hasil pendidikan yang pintar secara intelektual tapi sikap dan tingkah lakunya jauh dari kata intelektual itu sendiri
5.    Kurang penghargaan pada guru dan dosen
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan sedikit seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).
6.    Kualitas dan kuantitas guru/ dosen kurang
Kualitas guru di Indonesia bisa dikatakan kurang, karena kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya
7.    Pendidikan kepribadian kurang mendapatkan perhatian yang serius
Karena sudah dipengaruhi oleh sekulerisme pendidikan, dalam kegiatan pembelajaran pun kadang menganggap siswa yang pintar dan pandai itu apabila nilai kognitif dan psikomotornya yang tinggi tanpa memperhatikan nilai afekif yang kadang terkesampingkan.
Dalam membentuk kepribadian mulia pada peserta didik, bukan hanya tugas guru agama saja. Tapi tugas seluruh guru, karena guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran tapi juga mendidik agar para peserta didiknya memilki kepribadian yang mulia
8.    Mencetak tukang
Banyak peserta didik yang hanya mengerti materi pelajaran yang diajarkan tapi tidak mengamalkannya

KONDISI MASYARAKAT SEKARANG INI
Akibat dari modernisasi, globalisasi dan sekulerisme yang menyebabkan seseorang menjadi jauh dari agama menyebabkan keadaan masyarakat di Indonesia sekarang ini menjadikan sikap masyarakat yang egois, individualis, matrealistis, sekuler, hedonis, krisis akhlak dan agama sebagai simbul. Agama sebagai simbul bukan suatu hal yang asing lagi, karena kita telah banyak melihat banyak orang yang mengaku islam tapi dari sikap tidak mencerminan bahwa dirinya adalah seorang muslim. Hal ini terlihat dari banyaknya wanita muslim yang tidak memakai jilbab dan tidak berpakaian layaknya seorang muslim.
Untuk memproteksi diri dari global imfact yang menyebabkan masuknya kebudayaan asing yang tidak seuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, maka kita harus memproteksi diri dengan:
1.    Landasan rohani.
Yakni agama menjadi benteng atau filter kita dari hal-hal yang bertentangan dengan agama. Globalisasi harus tetap kita ikuti, karena jika tidak kita akan ketinggalan jaman. Tapi kita harus memfilter apa yang baik dan apa yang buruk dengan keyakinan agama kita
2.    Landasan filasafat
Yakni Pancasila. Dengan mengamalkan 5 M terhadap Pancasila maka efek negative akibat globalisasi akan dapat kita saring dengan tetap meyesuaikan apakah pengaruh asing ini sesuai tidak dengan nilai-nilai Pancasila. Apabila tidak sesuai, maka kita harus meninggalkannya.
3.    Landasan Histori
Apabila kebudayaan asing terus mempengaruhi kebudayaan asli Indonesia, maka semakin hari kebudayaan asli kita akar tersingkir. Jika hal itu terjadi maka, bangsa ini akan mudah terjajah. Dengan adanya landasan histori ini, kita akan mampu memfilter mana kebudayaan yang sesuai dengan bangsa Indonesia dan mana yang tidak.

KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI

Mayarakat madani (civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya. Adapun karakteristik dari mayarakat madani adalah sebagai berikut:
1.    Religius
Apbila masyrakat Indonesia sudah termasuk masyarakat yang religius maka tidak akan ada manusia yang menyakiti manusia lain. Contohnya antar tetangga saling member makanan seperti yang dicontohkan oleh rasulullah
2.    Demokrasi
yaitu proses dimana para anggota masyarakatnya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya
3.    Kepastian hukum
Merupakan upaya pemerintah untuk memberikan jaminan hukum sehingga  terciptanya keadilan.
4.    Egalitarian
5.    Penghargaan terhadap ”human dignity”
6.    Kemajuan budaya dan bangsa dalam satu kesatuan

0 komentar:

Posting Komentar